Peluang Bisnis Ikan Hias

Ikan hias jenis blackghost banyak diminati importir. Sayang, pasokannya masih kurang. Berarti, peluang di sektor ini tetap terbuka lebar.

 

Wajar kalau Wijaya atau Lau Wie Sang, melirik usaha tersebut. Meski awalnya tidak langsung ke ikan hias karena sebelumnya lebih banyak berkecimpung di sektor pertanian, apalagi posisinya sebagai ketua kontak tani. Tetapi salah satu usaha yang dikembangkan waktu itu adalah peternakan lele dan gurame.

Pertimbangannya ketika itu, makin hari lahan pertanian di wilayahnya makin berkurang karena perubahan fungsi yang semula daerah pertanian menjadi kawasan pemukiman. Terinspirasi dari usaha peternakan lele dan gurame yang telah dirintisnya, sekaligus melihat area yang makin menyempit, akhirnya dia memutuskan untuk pindah ke usaha ikan hias.

Bermodalkan 30 buah aquarium ukuran 100 cm x 50 cm x 35 cm serta bibit (burayak) sebanyak 750 ekor per-aquarium, Wijaya mengawali usahanya. Dia melakukan semua itu sebenarnya sebagai jalan keluar bagi anggota kelompoknya yang makin hari makin mengalami kesulitan dalam penyediaan lahan.

Sekarang, usahanya berkembang, jumlah aquariumnya bertambah menjadi 250 buah, kolam pendederan tersedia dan dibagi menjadi tiga lokal dengan kapasitas, puluhan bahkan ratusan ribu ekor ikan dari berbagai jenis, ada blackghost, starby, red rainbow, panda, black phantom, red phantom, red borneo dan sebagainya.

Sedangkan hasil yang didapat dari usahanya tadi, Wijaya mengaku kisaran angkanya antara Rp 50-100 juta per bulan. Itu pun dengan hitungan kasar jika mengkalkulasikan seekor anakan blackghost ukuran lebih kurang 1 inci umur satu bulan dengan harga Rp 1.000, belum lagi yang ukurannya lebih besar dengan asumsi sekali bertelur jumlahnya bisa mencapai 500-700 ekor per pasang. Tinggal dikalikan saja dengan jumlah indukan yang ada. hasilnya pasti angka-angka yang sudah disebutkan tadi.

Untuk pemasaran ikan hiasnya, Wijaya tidak mengalami kesulitan karena meski belum menjadi eksportir, tetapi justru para eksportirlah yang datang ke tempatnya dan melakukan transaksi pembelian.

Sampai saat ini Wijaya mengaku kewalahan melayani permintaan dari para eksportir, terutama ikan hias jenis blackghost. Makanya untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Wijaya mencoba merangkul beberapa orang yang tergabung di koperasi pertanian “Karya Bersama” untuk terjun ke usaha tersebut, apalagi di lembaga itu dirinya juga menjabat sebagai ketua. “Maunya sih semua anggota koperasi jadi peternak ikan hias,” katanya.

Cara lain yang dilakukan Wijaya, yakni membentuk jaringan semacam plasma yang melibatkan masyarakat di sekitar rumahnya. Walaupun jumlahnya masih sedikit tetapi kemampuan untuk memenuhi kebutuhan permintaan pasar sudah mulai teratasi. Hanya saja kalau diprosentasekan jumlahnya memang masih sangat sedikit. Padahal harapannya, seluruhnya bisa terpenuhi.

Wijaya mencontohkan ada salah satu binaannya yang hanya memiliki luas lahan kurang dari 20 meter persegi tetapi sekarang sudah bisa memetik hasilnya, dengan menjadikannya sebagai peternak yang khusus mengembangkan usaha pembiakan. Hasilnya hampir setiap bulan anggota binaannya bisa memperoleh keuntungan sekitar Rp 10 juta-an.

Untuk mewujudkan keinginannya tadi, sekaligus untuk menjawab peluang yang ada, Wijaya membuka lebar-lebar pintu rumahnya di wilayah Cikunir, Jati Kramat, Jati Asih, Kota Bekasi bagi masyarakat yang ingin belajar bagaimana menjadi seorang peternak ikan hias. Karena untuk memulai usaha tersebut, orang harus memahami dulu bagaimana seluk-beluk pengelolaannya, dari pengenalan pH air, jenis ikan, serta perawatannya.

Kalau sudah memiliki modal pengetahuan tadi, Wijaya berani mengatakan bahwa peluang untuk sukses di usaha ikan hias masih terbuka lebar. (Sumber : Majalah PIP)

Cashflow Usaha Ikan Hias untuk luas lahan + 20 meter persegi

1.
Aquarium sebanyak 30 buah
@ Rp 100.000
= Rp 3.000.000
2.
Burayak (anak ikan)@ 750 ekor/aquarium x 30 buah
= Rp
16.875.000
3.
Pakan/hari@ Rp 20.000 x 60 hari (2 bulan)= Rp 1.200.000
4.
Tenaga kerja 1 orang@ Rp 800.000 x 2 bulan= Rp
1.600.000
5.
Alat-alat, tabung oksigen, plastik-karet kemasan,
 = Rp 100.000
 serokan, obat-obatan    
   TotalRp 22.775.000

 

Search

Kolom

  •   Kehadiran Hernando de Soto di Indonesia, beberapa waktu lalu, membuka jalan bagi kaum miskin untuk menyadari masih ada kekayaan yang dimiliki berupa aset yang selama ini tidak disadari.

Profil

  • Kenal Swamitra secara tidak sengaja, ceritanya waktu itu Marhedi butuh uang untuk tambahan beli lapak yang sebelumnya disewa.

  • Bermula dari kebijakan pengurangan pegawai oleh perusahaan tempatnya bekerja karena pengaruh krisis moneter tempo hari. Akhirnya Izzuddin tergerak untuk melanjutnya usaha yang semula dirintis oleh almarhum istrinya pada 2002.

    Berbekal modal Rp 5 juta untuk membeli peralatan dan bahan baku, Izzuddin pun mulai menekuni usaha bandeng sosisnya. Dibantu tenaga kerja sebanyak lima orang, yang diambil dari lingkungan masyarakat di sekitar rumahnya yang dijadikan tempat produksi di Jl. Hembo, Rt 03/07 No.19 Jatimulya, Tambun, Jawa Barat.
  • {slimbox images/stories/gallery/img_0021.jpg,images/stories/thumbs/img_0021.jpg,}
      Keterlibatannya di gerakan koperasi di awali langsung sebagai pengawas, meski dalam kesehariaan dirinya berprofesi sebagai pendidik, tapi kalau sudah berbicara mengenai koperasi, Ketua Koperasi Guru Pondokgede yang sudah menjabat selama empat periode ini, dengan lancar menyampaikan penjelasannya, mulai dari hambatan, tantangan, hingga prospek koperasi sebagai jalan keluar persoalan ekonomi yang sedang dialami bangsa kita.
  • Bagi pengurus Koperasi Karyawan (Kopkar) PT. Amarta Karya, mengembangkan koperasi yang memiliki Badan Hukum berdasarkan Surat Keputusan Kepala Kantor Wilayah Departemen Koperasi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor : 47/BLP/V/1990, tanggal 30 Maret 1990 dengan No. Badan Hukum 2487/BH/I, boleh dibilang bukan sesuatu yang sulit. Makanya hingga akhir Oktober 2005, Kopkar PT.Amarta Karya mampu mengumpulkan asset lebih kurang Rp 1,8 miliar.

    Dengan memanfaatkan jaringan induknya, Kopkar ini bisa memperluas keanggotaannya ke seluruh cabang perusahaan yang tersebar di Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel), Medan, Kalimantan Timur, Riau, Jambi, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.