| Berumah di Atas Air |
|
Usianya baru 19 tahun, tapi perjalanan hidup menuntutnya menjadi penopang keluarga. Berbekal ijazah sekolah dasar, Hajir pun nekad merantau keluar dari desanya, mencari pekerjaan sambil mengejar mimpi bisa menafkahi keluarganya. Hingga akhirnya pemuda lajang ini “terdampar” dan benar-benar terdampar dalam arti sesungguhnya di atas gerakan arus Kalimalang-Bekasi. Karena sejak 5 bulan lalu, Hajir dengan setia mengantarkan orang menyeberangi Kalimalang yang berarus cukup kencang. Bermodalkan perahu kayu milik tuannya yang juga berasal dari kampungnya. Hajir tidak pernah bosan mengantarkan mereka menyeberangi Kalimalang. Dengan jam kerja dimulai sejak pukul lima pagi hingga jam sepuluh malam, entah sudah berapa ribu kali, anak pertama dari dua bersaudara ini bolak-balik menarik perahu membantu mereka yang membutuhkan tenaganya. Meski tidak pernah mematok tarif atas jasa yang dilakukan. Tapi sebagian penumpang dengan kesadaran sendiri rela memberikan lembaran rupiah kepadanya. Walau ada juga yang dengan congkaknya berlalu begitu saja setelah dibantu menyeberang. “Menghadapi orang seperti itu, saya harus banyak bersabar. Mungkin saja dia sedang tidak punya uang atau malah nggak ada recehan sama sekali,”katanya polos. Hajir memang tidak pernah memaksa penumpang untuk membayar ongkos penyeberangan. Baginya bekerja di atas perahu penyeberangan bukan seperti bekerja di sebuah pabrik yang punya penghasilan tetap. Dulu, ketika di dekat lokasi perahu penyeberanganya, PT Tong Yang masih berproduksi , penghasilanya per hari tidak kurang Rp 50.000 karena banyak karyawannya yang tinggal atau menyewa rumah kontrakan di seberang kali. “Tapi sekarang bisa mendapatkan uang tiga puluh ribu saja sudah lumayan,”katanya. Dengan pendapatannya tadi, Hajir harus pintar-pintar mengaturnya. Setelah dikurangi kebutuhan makan-minum sehari-hari sebesar Rp 15.000, sisanya disimpan untuk disetorkan kepada pemilik perahu. Karena kegigihan dan sikap hemat yang diterapkan, sekarang di kampungnya di Parigi, Tambakserang, Bantarkawung, Brebes, Jawa Tengah, Hajir mampu membeli dua ekor kambing yang diharapkan nantinya bisa berkembang biak dan jumlahnya menjadi banyak. “Saya ingin membahagiakan ibu,”katanya. Memang, sejak orang tua lelakinya meninggal dunia beberapa bulan lalu, peran Hajir dalam keluarga jadi bertambah, dirinya harus menggantikan peran bapaknya menjadi kepala keluarga. Ketika remaja lain seusianya banyak yang asyik berkeliaran di mal atau jalan-jalan seusai belajar. Hajir harus tetap bertahan di atas perahu penyeberangannya. Jangankan untuk bisa main ke pusat perbelanjaan di sekitarnya, seperti Bekasi Trade Center (BTC), untuk istirahat makan saja harus buru-buru. Bahkan tidurpun harus di atas perahu. Karena untuk bisa menyewa rumah kontrakan uangnya tidak cukup. Ketika pertama kali mengalami kondisi seperti itu, Hajir sempat masuk angin karena kedinginan. Tapi sekarang sudah kebal , kebiasaan tidur diatas perahu dan berlangsung selama berbulan-bulan membuat tubuhnya menjadi terbiasa.”Sebenarnya saya ingin memiliki pekerjaan yang lebih layak. Mudah-mudahan nanti bisa saya dapatkan,”katanya. Hajir tidak harus berkecil hati, meski apa yang dilakukan masih dianggap sebelah mata oleh sebagian orang. Tapi ketulusannya menjadi catatan tersendiri. Seperti pengakuan Putri, anak Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang setiap hari menggunakan jasanya. “Sejak kecil saya sudah merasa terbantu dengan adanya perahu ini,”kata pelajar kelas 2 SMP Mandalahayu ini. Kecuali kalau tiba-tiba di dekat perahu penyeberangannya dibangun jembatan yang menghubungkan sisi kiri dan kanan Kalimalang. Mau tidak mau Hajir pun harus mencari lokasi lain untuk kelangsungan pekerjaannya.
|
