Bukalam Peduli Lingkungan

Meski baru setahun berdiri, tapi kehadiran lembaga swadaya masyarakat (LSM) peduli lingkungan Bukalam yang memiliki base camp di Jalan KH. Abdurahman Rt 05/01 Bekasi Timur,  sudah dirasakan keberadaannya oleh masyarakat Kota Bekasi.

 

Salah satu kegiatan yang sudah dilakukan, diantaranya saat memperingati  Hari Bumi dan Kampanye Pencegahan Pemanasan Global (global warming), lembaga ini ikut melaksanakan program penghijauan dengan menanam sekitar 700 pohon  mahoni  di wilayah Kranji Bekasi Barat. “Kami juga akan berkoordinasi dengan pihak terkait dalam upaya memperbaiki  infrastruktur saluran air di lingkungan Kota Bekasi,”kata Ketua Bukalam Iwan Mulyadi saat wawancarai di sebuah kedai di Jalan Ir. H.Juanda Kota Bekasi.

 

Sebagai program tahunan, LSM yang berdiri pada 22 April 2007 ini mencanangkan Lomba kebersihan di tingkat rukun warga (RW)yang melibatkan rukun tetangga (RT) sebagai upaya mengajak masyarakat untuk lebih peduli kepada lingkungan sekitarnya.

 

 

Search

Kolom

  •   Kehadiran Hernando de Soto di Indonesia, beberapa waktu lalu, membuka jalan bagi kaum miskin untuk menyadari masih ada kekayaan yang dimiliki berupa aset yang selama ini tidak disadari.

Profil

  • Kenal Swamitra secara tidak sengaja, ceritanya waktu itu Marhedi butuh uang untuk tambahan beli lapak yang sebelumnya disewa.

  • Bermula dari kebijakan pengurangan pegawai oleh perusahaan tempatnya bekerja karena pengaruh krisis moneter tempo hari. Akhirnya Izzuddin tergerak untuk melanjutnya usaha yang semula dirintis oleh almarhum istrinya pada 2002.

    Berbekal modal Rp 5 juta untuk membeli peralatan dan bahan baku, Izzuddin pun mulai menekuni usaha bandeng sosisnya. Dibantu tenaga kerja sebanyak lima orang, yang diambil dari lingkungan masyarakat di sekitar rumahnya yang dijadikan tempat produksi di Jl. Hembo, Rt 03/07 No.19 Jatimulya, Tambun, Jawa Barat.
  • {slimbox images/stories/gallery/img_0021.jpg,images/stories/thumbs/img_0021.jpg,}
      Keterlibatannya di gerakan koperasi di awali langsung sebagai pengawas, meski dalam kesehariaan dirinya berprofesi sebagai pendidik, tapi kalau sudah berbicara mengenai koperasi, Ketua Koperasi Guru Pondokgede yang sudah menjabat selama empat periode ini, dengan lancar menyampaikan penjelasannya, mulai dari hambatan, tantangan, hingga prospek koperasi sebagai jalan keluar persoalan ekonomi yang sedang dialami bangsa kita.
  • Bagi pengurus Koperasi Karyawan (Kopkar) PT. Amarta Karya, mengembangkan koperasi yang memiliki Badan Hukum berdasarkan Surat Keputusan Kepala Kantor Wilayah Departemen Koperasi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor : 47/BLP/V/1990, tanggal 30 Maret 1990 dengan No. Badan Hukum 2487/BH/I, boleh dibilang bukan sesuatu yang sulit. Makanya hingga akhir Oktober 2005, Kopkar PT.Amarta Karya mampu mengumpulkan asset lebih kurang Rp 1,8 miliar.

    Dengan memanfaatkan jaringan induknya, Kopkar ini bisa memperluas keanggotaannya ke seluruh cabang perusahaan yang tersebar di Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel), Medan, Kalimantan Timur, Riau, Jambi, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.