danau cibereum PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh abede   
Rabu, 30 Juli 2008 13:28

  Ingin menikmati segarnya air kelapa muda disela-sela hembusan angin di pinggir sebuah telaga. Silakan datang ke Desa Lambang Jaya Tambun Selatan, di sana ada sebuah tempat wisata, namanya Danau Cibereum.

Meski belum dikelola maksimal oleh pemerintah daerah Kabupaten Bekasi. Tapi tempat tersebut ternyata sudah banyak dikunjungi orang. Dari cerita Menah, pedagang bakso yang mangkal di sana sejak hampir empat tahun lalu. Tiap Sabtu dan Minggu, banyak pengunjung yang datang ke Danau Cibereum buat bersantai.”Ada yang naek motor, ada juga yang rombongan pake sepeda,” katanya.

Untuk mencapai Danau Cibereum, pengunjung yang datang dari arah Kota Legenda Tambun bisa menempuh jalur perkampungan, melewati jalan desa dan berakhir persis di Danau  Cibereum. Sedangkan yang ingin mengambil jalan lain bisa lewat perumahan Grand Wisata dan menembus jalan setapak.

Luas Danau Cibereum mencapai puluhan hektar, sayangnya belum ada data yang lengkap mengenai aset objek wisata ini. Menurut cerita dari mulut ke mulut, keberadaan situ tersebut awalnya hanya sebuah empang yang ukurannya relatif kecil, tapi karena ada kegiatan pengerukan tanah disekelilingnya, akibatnya luas empang tersebut menjadi bertambah, sehingga lama-lama berkembang menjadi sebuah danau.

Tapi versi lain, bilang sejak dulu Danau Cibereum memang sudah ada, hanya saja luasnya memang tidak selebar sekarang. Sebelum ada perumahan di sekelilingnya, Danau Cibereum masuk dalam lingkup wilayah Kampung Pekopen. Sedangkan sekarang karena pesatnya pembangunan di sekitar lokasi tersebut, pelan-pelan nama kampungpun jadi berganti. Bersyukur sebutan  untuk Danau Cibereum masih tetap ada, hanya saja pertanyaannya bisa bertahan sampai kapan?

Bagi yang belum pernah ke Danau Cibereum, rasanya sayang kalau sampai dilewatkan. Apalagi pemandangan di sana sangat asri, pohon berakar tunggak banyak kokoh berdiri di tepiannya, seperti mangga, kecapi, nangka dan angsana. Walaupun keadaan jalannya masih setengah jadi atau belum diaspal, tapi justru kondisi itu makin menguatkan kesan naturalnya. Apalagi kalau turun hujan, dijamin bakal pulang becek-becekan atau malah blepotan lumpur karena jatuh kepleset pas melintasi tanah merah.

Kalau tidak sempat membawa timbel ke Danau Cibereum, jangan khawatir bakal kelaparan karena disekitarnya banyak berdiri warung-warung kecil yang menjual berbagai jenis makanan. Mulai dari mie rebus, bakso hingga goreng-gorengan, tentunya dengan harga relatif murah. Tapi seandainya mau berhemat-hemat, silakan saja menyiapkan rantangan untuk diisi pesor, ketupat, opor ayam atau semur jengkol.

  

Terakhir Diperbaharui ( Rabu, 30 Juli 2008 14:00 )
 

Search

Kolom

  •   Kehadiran Hernando de Soto di Indonesia, beberapa waktu lalu, membuka jalan bagi kaum miskin untuk menyadari masih ada kekayaan yang dimiliki berupa aset yang selama ini tidak disadari.

Profil

  • Kenal Swamitra secara tidak sengaja, ceritanya waktu itu Marhedi butuh uang untuk tambahan beli lapak yang sebelumnya disewa.

  • Bermula dari kebijakan pengurangan pegawai oleh perusahaan tempatnya bekerja karena pengaruh krisis moneter tempo hari. Akhirnya Izzuddin tergerak untuk melanjutnya usaha yang semula dirintis oleh almarhum istrinya pada 2002.

    Berbekal modal Rp 5 juta untuk membeli peralatan dan bahan baku, Izzuddin pun mulai menekuni usaha bandeng sosisnya. Dibantu tenaga kerja sebanyak lima orang, yang diambil dari lingkungan masyarakat di sekitar rumahnya yang dijadikan tempat produksi di Jl. Hembo, Rt 03/07 No.19 Jatimulya, Tambun, Jawa Barat.
  • {slimbox images/stories/gallery/img_0021.jpg,images/stories/thumbs/img_0021.jpg,}
      Keterlibatannya di gerakan koperasi di awali langsung sebagai pengawas, meski dalam kesehariaan dirinya berprofesi sebagai pendidik, tapi kalau sudah berbicara mengenai koperasi, Ketua Koperasi Guru Pondokgede yang sudah menjabat selama empat periode ini, dengan lancar menyampaikan penjelasannya, mulai dari hambatan, tantangan, hingga prospek koperasi sebagai jalan keluar persoalan ekonomi yang sedang dialami bangsa kita.
  • Bagi pengurus Koperasi Karyawan (Kopkar) PT. Amarta Karya, mengembangkan koperasi yang memiliki Badan Hukum berdasarkan Surat Keputusan Kepala Kantor Wilayah Departemen Koperasi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor : 47/BLP/V/1990, tanggal 30 Maret 1990 dengan No. Badan Hukum 2487/BH/I, boleh dibilang bukan sesuatu yang sulit. Makanya hingga akhir Oktober 2005, Kopkar PT.Amarta Karya mampu mengumpulkan asset lebih kurang Rp 1,8 miliar.

    Dengan memanfaatkan jaringan induknya, Kopkar ini bisa memperluas keanggotaannya ke seluruh cabang perusahaan yang tersebar di Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel), Medan, Kalimantan Timur, Riau, Jambi, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.