| | Aktivitasnya di gerakan koperasi di Bekasi, terbilang lama. Tak heran, banyak pihak menerima kehadirannya. Selain, suka berdiskusi, dia juga sering melontarkan ide-ide cemerlang. Lantas, bagaimana caranya mendorong prinsip berdemokrasi di koperasi? |
Di percaturan perkoperasian pegawai negeri Kota Bekasi, rasanya Away Hendrawan sudah dikenal banyak orang. Apalagi sekarang posisinya sebagai Ketua Pusat Koperasi Pegawai Republik Indonesia (PKP-RI) Kota Bekasi. Sebelum dipercaya sebagai ketua di PKP-RI Kota Bekasi, Away sebenarnya sudah menjadi pengurus di beberapa koperasi di lingkungan birokrasi pemerintahan. Ambil contoh seperti di Koperasi Karyawan Penerangan Kabupaten Bekasi sebelum dimekarkan. Ia juga aktif di Koperasi Pegawai Pemerintah Kota Bekasi. Sebagai abdi negara, lelaki kelahiran Ciamis, 24 Mei 1954 memahami benar arti penting lembaga ekonomi kerakyatan koperasi. Berangkat dari pengalaman sendiri, bapak dari 3 anak ini berkeinginan menjadikan koperasi sebagai pemecah persoalan yang sering dihadapi banyak pegawai menjalani kehidupan sehari-hari. “Memang kalau sedang membutuhkan dana, biasanya tidak sedikit teman-teman yang mendatangi koperasi,” ungkapnya berkisah.
Away memang tidak terlalu muluk dalam menjalani kehidupannya, baginya bekerja adalah ibadah. Kalaupun dalam perjalanannya ada rejeki yang didapat, itu adalah bentuk kasih sayang Tuhan untuknya. Dengan memegang filosofi tersebut kehadirannya bisa diterima banyak pihak. Bukan saja di kalangan gerakan tetapi hampir di semua lapisan. “Saya ingin dengan koperasi bisa memperkuat tali silaturahmi,” tukas suami dari Wawa Fatmawati ini.
Sebagai figur yang dianggap memahami seluk-beluk perkoperasian di wilayah penyangga Ibukota itu. Sering dirinya dimintai masukan dari beberapa pengurus koperasi yang kebetulan menjadi anggota di PKP-RI Kota Bekasi. “Saya hanya bisa mengingatkan jangan menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan. Karena sekali orang kecewa kemungkinan bisa selamanya tidak akan percaya,” katanya.
Meski saat ini statusnya masih sebagai pamong yang bertugas di Badan Kepegawaian Daerah Kota Bekasi tetapi aktifitasnya di PKP-RI tetap berjalan sebagaimana mestinya. Hanya saja untuk melakukan pertemuan dengan pengurus dan pengawas secara rutin biasanya dilaksanakan setiap Sabtu. Itulah salah satu cara dia membagi waktu kerja dengan mengurus koperasi.
Dalam menjalankan lembaga yang dipimpinnya, tidak jarang Away sering bertukar pikiran dengan rekan-rekannya. Tujuannya tentu saja untuk mendapatkan ide-ide segar atau mencoba menemukan jalan keluar kalau seandainya mendapati sebuah persoalan. Sejauh ini memang hampir tidak ada kesulitan yang berarti. Malahan dalam beberapa kesempatan, Away sering menawarkan kepada pengurus koperasi-koperasi primer yang sebagian besar dari kalangan pendidik untuk memanfaatkan dana pinjaman yang diberikan beberapa bank.
Ia tidak mengenal istilah membeda-bedakan. Semuanya diberikan kesempatan untuk mengajukan pinjaman. Dengan catatan selama dana yang dibutuhkan masih tersedia. Yang paling penting, anggota koperasi yang mengajukan pinjaman sudah memenuhi persyaratan. Karena biar bagaimana pun yang namanya pinjaman harus dikembalikan. Pendek kata, semua anggota harus bisa memahami dan mengetahui prinsip keuangan sederhana ini.
Begitulah cara Away mengakomodir kepentingan para anggota koperasi. Yakni berupaya mengedepankan keramahan dan menempatkan orang lain dalam posisi sederajat. Sederhananya, jangan mentang-mentang mempunyai jabatan lantas berlaku sesuka hatinya. Apalagi di koperasi tidak mengenal struktur atasan dan bawahan.
Ia mengingatkan, kebetulan saja pada periode kali ini dirinya terpilih menjadi ketua. Seandainya besok lusa tidak lagi menjabat, Away berharap masih bisa berkomunikasi dengan orang-orang yang pernah dipimpinnya. “Saya percaya, selama kita bisa menghargai orang lain, begitu juga sebaliknya orang pun akan menghargai kita,” ujar sosok berpenampilan sederhana ini.
Memang masih banyak keinginan Away yang belum tercapai dalam memajukan dunia perkoperasian di Bekasi. Namun demikian, tampaknya ia masih mempunyai culup waktu untuk mewujudkannya. Seandainya belum juga terlaksana, dia memiliki keyakinan di beberapa tempat lain ada orang lain yang juga memiliki keinginan serupa. Tinggal bagaimana waktu mempertemukannya.(Sumber: Majalah PIP) |