Terapkan Pola Manajemen Modern
Gedung dua lantai seluas 74 meter persegi itu, terletak di di ujung jalan. Meski jauh dari jalan utama, tapi posisinya di tengah-tengah pemukiman warga. Sepintas orang bisa menganggap itu rumah tinggal biasa. Untungnya, ada papan nama bertuliskan ‘Kantor Koperasi Warga Setara’. Kalau kita masuk ke dalam, segera mata kita tertuju ke counter pelayanan. Kesannya, mirip sebuah kantor bank.

Koperasi Warga Setu Bintara Jaya (Warga Setara), lahir dari usulan warga yang ingin meningkatkan kesejahteraannya. Awalnya, hanya kelompok arisan di lingkungan Rukun Warga (RW) 02, Kelurahan Setu Bintara, Bekasi Barat. Belakangan, anggota arisan sepakat merobah menjadi kegiatan koperasi. Namanya Koperasi Warga Setara, dengan Badan Hukum No230/BH/KDK.10.8/VII/1999.

Pelan tapi pasti, kehadiran koperasi cukup dirasakan manfaatnya oleh anggota. Simpan-pinjam pun menjadi salah satu unit usaha primadonanya. Unit lain adalah pembayaran rekening listrik dan telepon, usaha biro jasa pengurusan surat kendaraan bermotor serta kredit barang elektronik. Tapi urusan pinjam-meminjam nyatanya memang tetap yang paling menarik!

Saat ini anggota tercatat ada 140 orang. Selebihnya kategori nasabah, yang berjumlah lumayan banyak. Mengapa? Sebab, walau koperasi di wilayah Bekasi, tetapi jangkauan kegiatan meluas ke Jakarta. “Kami melakukan pembinaan terhadap 200-an pedagang minuman keliling di Jakarta Utara,” kata Siswoyo, koordinator kolektor koperasi.

Pembinanaan yang dimaksudkan berupa pemberian modal usaha. Kisarannya Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta per pedagang. Totalnya hampir mencapai Rp 105 juta. Demi memberikan memudahkan proses pembayaran, lembaga ini memanfaatkan tenaga kolektor untuk melakukan penagihan setiap hari.

Meski tergolong koperasi warga, bukan berarti manajemen institusi usaha ini apa adanya. Justru di sini semua aktifitas transaksi dilakukan dengan sistem kumputerisasi. Mau lihat laporan neraca, rugi-laba, jurnal harian, bulanan, laporan keuangan teller, mengetahui zona wilayah bahkan sampai laporan kolektor? Tinggal di klik, dalam hitungan detik data yang dibutuhkan langsung muncul di layar monitor.

Koperasi yang diketuai H Sunarto WS ini sekarang memiliki asset Rp 956 juta. Padahal dulu, di awal pendiriannya cuma punya modal Rp 15 juta. Itu pun diambil dari pungutan anggota arisan yang dipatok membayar simpanan pokok sebesar Rp 25 ribu. Lalu ada Simpanan Gedung –yang sepertinya istilah ini hanya ada di Koperasi Warga Setara--sebesar Rp 100 ribu. Khusus simpanan gedung, hasilnya sudah bisa dirasakan. “Ya, kantor yang kami tempati ini,” kata manajer koperasi, Ibari.

Yang pasti karena kepercayaan anggota, Koperasi Warga Setara akhirnya bisa berkembang seperti sekarang. Hanya saja masih ada kendala yang dirasakan cukup menggangu para pengurus. Menurut Ibari, kesadaran warga berkoperasi masih kurang. Buktinya, banyak warga yang terjerat rentenir.

Melihat kondisi tersebut, pengurus koperasi yang berjumlah 5 orang, pengawas 3 dan karyawan 6 orang, berusaha memaksimalkan kinerja. Berbagai program pun diluncurkan. Salah satunya membuka usaha pembuatan pupuk yang berbahan baku limbah peternakan. “Tujuannya, tidak lain untuk melibatkan masyarakat dalam kegiatan usaha koperasi,” kata Ibari seraya tersenyum

Jalan memang masih panjang. Posisi kantor koperasi yang ‘hanya’ di tikungan kompleks perumahan, bakal jadi saksi sejarah. Tegasnya, Koperasi Warga Setara pasti bukan cuma tempat singgah. Tapi sarana usaha, bagi warga yang ingin kesejahteraan ekonominya berobah. (Sumber: Majalah PIP)
 

Search

Kolom

  •   Kehadiran Hernando de Soto di Indonesia, beberapa waktu lalu, membuka jalan bagi kaum miskin untuk menyadari masih ada kekayaan yang dimiliki berupa aset yang selama ini tidak disadari.

Profil

  • Kenal Swamitra secara tidak sengaja, ceritanya waktu itu Marhedi butuh uang untuk tambahan beli lapak yang sebelumnya disewa.

  • Bermula dari kebijakan pengurangan pegawai oleh perusahaan tempatnya bekerja karena pengaruh krisis moneter tempo hari. Akhirnya Izzuddin tergerak untuk melanjutnya usaha yang semula dirintis oleh almarhum istrinya pada 2002.

    Berbekal modal Rp 5 juta untuk membeli peralatan dan bahan baku, Izzuddin pun mulai menekuni usaha bandeng sosisnya. Dibantu tenaga kerja sebanyak lima orang, yang diambil dari lingkungan masyarakat di sekitar rumahnya yang dijadikan tempat produksi di Jl. Hembo, Rt 03/07 No.19 Jatimulya, Tambun, Jawa Barat.
  • {slimbox images/stories/gallery/img_0021.jpg,images/stories/thumbs/img_0021.jpg,}
      Keterlibatannya di gerakan koperasi di awali langsung sebagai pengawas, meski dalam kesehariaan dirinya berprofesi sebagai pendidik, tapi kalau sudah berbicara mengenai koperasi, Ketua Koperasi Guru Pondokgede yang sudah menjabat selama empat periode ini, dengan lancar menyampaikan penjelasannya, mulai dari hambatan, tantangan, hingga prospek koperasi sebagai jalan keluar persoalan ekonomi yang sedang dialami bangsa kita.
  • Bagi pengurus Koperasi Karyawan (Kopkar) PT. Amarta Karya, mengembangkan koperasi yang memiliki Badan Hukum berdasarkan Surat Keputusan Kepala Kantor Wilayah Departemen Koperasi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor : 47/BLP/V/1990, tanggal 30 Maret 1990 dengan No. Badan Hukum 2487/BH/I, boleh dibilang bukan sesuatu yang sulit. Makanya hingga akhir Oktober 2005, Kopkar PT.Amarta Karya mampu mengumpulkan asset lebih kurang Rp 1,8 miliar.

    Dengan memanfaatkan jaringan induknya, Kopkar ini bisa memperluas keanggotaannya ke seluruh cabang perusahaan yang tersebar di Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel), Medan, Kalimantan Timur, Riau, Jambi, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.