Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Yang Mendapat Tanda Jasa dari Koperasi

  Keterlibatannya di gerakan koperasi di awali langsung sebagai pengawas, meski dalam kesehariaan dirinya berprofesi sebagai pendidik, tapi kalau sudah berbicara mengenai koperasi, Ketua Koperasi Guru Pondokgede yang sudah menjabat selama empat periode ini, dengan lancar menyampaikan penjelasannya, mulai dari hambatan, tantangan, hingga prospek koperasi sebagai jalan keluar persoalan ekonomi yang sedang dialami bangsa kita.

Drs. H. Ngadilan memang bukan orang baru di dunia perkoperasian. Pria kelahiran Yogyakarta, 9 Oktober 1952 ini sudah berkecimpung menangani koperasi sejak kurang lebih dua puluh tahun lalu.

Dedikasinya pun tidak diragukan, sebagai ketua koperasi guru, Pak Haji, begitu dirinya biasa dipanggil, pernah merelakan sertifikat tanah pribadinya untuk dijadikan jaminan ke bank supaya bisa mendapatkan pinjaman yang akan dipergunakan menutupi kekurangan dana koperasi yang dipimpinnya.

Sayangnya, waktu itu niat baik Pak Haji sempat ditanggapi minus dari sebagian anggota dan pengurus lainnya. Malahan timbul kecurigaan kalau langkah berani yang diambilnya dilandasi maksud terselubung, atau dengan bahasa lain ada udang di balik batu.

Tapi Pah Haji pantang menyerah. Meski harus menghadapi sorot kecurigaan, pelan-pelan dirinya membenahi neraca keuangan koperasinya. Terbukti setelah melewati saat-saat kritis tadi (periode 1998-2002), dirinya terpilih kembali menjadi ketua koperasi tersebut untuk empat kalinya. (2007-2011)

Sekarang, bukan lagi kecurigaan tetapi justru dukungan yang besar datang dari anggotanya. Ketika terjadi pemekaraan wilayah di Pondokgede untuk dipecah menjadi empat kecamatan. Sebagian anggota yang seharusnya berpisah justru memilih bertahan untuk tetap menjadi anggota koperasinya.

“Saya menyarankan supaya mereka membentuk koperasi yang baru. Tentunya dengan tetap memberikan dukungan moril, bimbingan manajemen, pengelolaan anggaran dan leadershipnya,” kata Pak Haji.

Bagi Pak Haji, mengelola koperasi itu bisa dibilang susah-susah gampang. Dari pengalaman dan pengamatan yang pernah dilakukan, ada tiga faktor yang ikut mempengaruhi perkembangan sebuah koperasi, Pertama; faktor internal, pengurus memiliki sifat jujur dan anggota mempunyai rasa memiliki terhadap koperasinya, Kedua; faktor external, adanya pengaruh dari luar, baik mitra kerja atau rekanan lainnya, Ketiga; situasi dan kondisi politik bangsa bisa berdampak terhadap aktifitas koperasi, baik ekonomi maupun sosial, yang satu ini berhubungan dengan pinjaman.

Dalam salah satu pertemuan pengurus koperasi di tingkat nasional, Pak Haji pernah mengemukakan pemikirannya tadi. Di forum tersebut apa yang disampaikannya sempat diragukan peserta lain, terutama untuk point ketiga, mengenai situasi dan kondisi politik bangsa yang ikut mempengaruhi perkembangan koperasi. Karena saat itu rezim orde baru masih berkuasa, sedikit sekali orang yang bisa menduga bakal terjadi gerakan reformasi di tahun 1998. Tidak mungkin, begitulah kira-kira yang ada di benak mereka.

Tidak lama setelah beberapa bulan reformasi terjadi, ada lagi pertemuan serupa. Sebagian peserta yang dulu meragukan pandangannya, spontan menyalami dirinya sekaligus membenarkan pendapatnya. “Saya hanya bilang kalau Allah menghendaki pasti semua bisa terjadi,” katanya.

Sebagai pengakuan atas pengabdiannya dalam memajukan gerakan koperasi, Pak Haji pun menerima tanda jasa dari pemerintah daerahnya sebagai Tokoh Gerakan Koperasi Tingkat Kota Bekasi tahun 2005. (Sumber : Majalah PIP)

 

Search

Kolom

  •   Kehadiran Hernando de Soto di Indonesia, beberapa waktu lalu, membuka jalan bagi kaum miskin untuk menyadari masih ada kekayaan yang dimiliki berupa aset yang selama ini tidak disadari.

Profil

  • Kenal Swamitra secara tidak sengaja, ceritanya waktu itu Marhedi butuh uang untuk tambahan beli lapak yang sebelumnya disewa.

  • Bermula dari kebijakan pengurangan pegawai oleh perusahaan tempatnya bekerja karena pengaruh krisis moneter tempo hari. Akhirnya Izzuddin tergerak untuk melanjutnya usaha yang semula dirintis oleh almarhum istrinya pada 2002.

    Berbekal modal Rp 5 juta untuk membeli peralatan dan bahan baku, Izzuddin pun mulai menekuni usaha bandeng sosisnya. Dibantu tenaga kerja sebanyak lima orang, yang diambil dari lingkungan masyarakat di sekitar rumahnya yang dijadikan tempat produksi di Jl. Hembo, Rt 03/07 No.19 Jatimulya, Tambun, Jawa Barat.
  • {slimbox images/stories/gallery/img_0021.jpg,images/stories/thumbs/img_0021.jpg,}
      Keterlibatannya di gerakan koperasi di awali langsung sebagai pengawas, meski dalam kesehariaan dirinya berprofesi sebagai pendidik, tapi kalau sudah berbicara mengenai koperasi, Ketua Koperasi Guru Pondokgede yang sudah menjabat selama empat periode ini, dengan lancar menyampaikan penjelasannya, mulai dari hambatan, tantangan, hingga prospek koperasi sebagai jalan keluar persoalan ekonomi yang sedang dialami bangsa kita.
  • Bagi pengurus Koperasi Karyawan (Kopkar) PT. Amarta Karya, mengembangkan koperasi yang memiliki Badan Hukum berdasarkan Surat Keputusan Kepala Kantor Wilayah Departemen Koperasi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor : 47/BLP/V/1990, tanggal 30 Maret 1990 dengan No. Badan Hukum 2487/BH/I, boleh dibilang bukan sesuatu yang sulit. Makanya hingga akhir Oktober 2005, Kopkar PT.Amarta Karya mampu mengumpulkan asset lebih kurang Rp 1,8 miliar.

    Dengan memanfaatkan jaringan induknya, Kopkar ini bisa memperluas keanggotaannya ke seluruh cabang perusahaan yang tersebar di Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel), Medan, Kalimantan Timur, Riau, Jambi, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.