Menjadikan Produk Unggulan Daerah
Bermula dari kebijakan pengurangan pegawai oleh perusahaan tempatnya bekerja karena pengaruh krisis moneter tempo hari. Akhirnya Izzuddin tergerak untuk melanjutnya usaha yang semula dirintis oleh almarhum istrinya pada 2002.

Berbekal modal Rp 5 juta untuk membeli peralatan dan bahan baku, Izzuddin pun mulai menekuni usaha bandeng sosisnya. Dibantu tenaga kerja sebanyak lima orang, yang diambil dari lingkungan masyarakat di sekitar rumahnya yang dijadikan tempat produksi di Jl. Hembo, Rt 03/07 No.19 Jatimulya, Tambun, Jawa Barat.

Proses produksi pembuatan bandeng sosis pun mulai berjalan, awalnya baru bisa menghasilkan 12 kilogram sosis bandeng dari 120 ekor ikan bandeng sebagai bahan baku. Secara bertahap jumlah produksi terus meningkat. “Sekarang kami bisa menghasilkan produksi 24 kilogram bandeng sosis per hari,” kata Izzuddin.

Sebenarnya Izzuddin mengakui kalau keterlibatannnya dalam usaha bandeng sosis ini, lebih banyak menangani bidang manajemennya. Meskipun latar belakang pendidikannya masih ada kaitannya dengan usaha tersebut, tetapi yang lebih memahami proses produksi atau cara pembuatan bandeng sosisnya justru adik iparnya. “Namanya Anton, dialah yang dulu selalu mendampingi istri saya dalam menjalani usaha bandeng sosis ini,” kata alumnus Akademi Usaha Perikanan (AUP) ini.

Proses pembuatan bandeng sosisnya sendiri memang memerlukan tenaga kerja yang terampil dan terlatih. Soalnya kalau kurang hati-hati dalam proses pengerjaannya bisa berdampak kurang bagus terhadap kualitas produk yang dihasilkan. Misalnya kulit bandeng sobek saat daging ikan di keluarkan setelah tulang-tulangnya ditumbuk dan dihancurkan.

Atau dalam tahapan pengolahan daging bandeng, kekurangan es batu pada saat dipisahkan dari bagian kulit. Efeknya dapat menimbulkan rasa gatal bagi konsumen yang memakannya. Sedangkan fungsi es batu, tak lain untuk menjaga kesegaran daging dan tidak menimbulkan bau akibat terlalu lama dikeluarkan. “Makanya kami harus betul-betul menjaga kualitas. Caranya dengan menambahkan ramuan untuk menambah kelezatannya,” kata Izzuddin.

Beberapa ramuan campuran yang dibutuhkan, selain ikan bandeng yang sudah ditentukan ukurannya, masih ada bahan-bahan lain. Misalnya seperti telur, bawang merah, bawang putih, buah pala, minyak nabati, garam, gula dan merica. Apa yang membuat bandeng sosis ini istimewa? Antara lain tidak menggunakan bahan pengawet, bebas kolesterol, memiliki daya tahan sampai lebih kurang tiga bulan dan masih tetap berbentuk ikan bandeng utuh!.

Selama ini Izzuddin menerapkan pola door to door dalam memasarkan bandeng sosis buatannya. Tidak jarang, dia datang ke kantor-kantor atau instansi pemerintah untuk menawarkan barang hasil produksinya. Meskipun diakui belum berhasil secara maksimal, tetapi pelan-pelan mulai banyak orang yang mengetahui dan membeli produk tersebut. “Beberapa kali kami mengikuti pameran bahkan mendapat penghargaan sebagai produk makanan olahan dari hasil laut saat kegiatan SMEs’CO di Jakarta,” katanya.

Penyebaran produk bandeng sosis buatan Izzuddin selain ada di outlet Matraman Jakarta juga merambah ke wilayah Serang, Provinsi Banten. Sedangkan harga jual bandeng sosis tersebut sekitar Rp 10.000 per piece dan sudah dikemas secara menarik.

Izzuddin juga membuka kesempatan kepada masyarakat untuk menjalin kerja sama kalau ingin menjadi agen bandeng sosis miliknya. Persyaratan yang harus dipenuhi, cukup memiliki freezer dengan kapasitas bisa menampung 200 pack kemasan sosis bandeng produksinya.

Untuk kedepan, Izzuddin sedang mengupayakan peningkatan produksinya. Sayangnya kendala yang dihadapi nyaris sama dengan para pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) lainnya. Tegasnya, keinginan tersebut belum berjalan secara maksimal karena terbentur permodalan. ”Maunya sih ingin tambah freezer dan dandang steam untuk alat pengukus,” katanya.

Selama ini, Izzuddin masih memanfaatkan peralatan model lama. Padahal permintaan pasar atas produk bandeng sosisnya dirasakan makin meningkat. “Saya sih berharap dapat bantuan. Karena sayang kan kalau kesempatan untuk berkembang dibiarkan,” katanya diplomatis.

Mengenai target jangka panjangnya, Izzuddin ingin bandeng sosis produksinya bisa menembus pasar ekspor. Keinginannya ini bukan sebatas angan-angan saja. Mengapa? Karena sejak jauh-jauh hari, dirinya sudah mempersiapkan bandeng sosis buatannya memenuhi standar pasar internasional, baik dari segi kualitas (mutu) maupun persyaratan kesehatan.

Sedangkan untuk pasaran lokal, setelah menjalin kerja sama dengan Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Bekasi. Izzuddin yang memasang label Izzan Mandiri pada kemasan produk bandeng sosisnya berharap, apa yang dikerjakannya sekarang ini bisa menjadi salah satu produk unggulan di daerah ini. Apalagi bahan baku ikan bandengnya diambil dari Muara Gembong, yang lokasinya ada di bagian Utara wilayah Kabupaten Bekasi. (Sumber: Majalah PIP)
 

Search

Kolom

  •   Kehadiran Hernando de Soto di Indonesia, beberapa waktu lalu, membuka jalan bagi kaum miskin untuk menyadari masih ada kekayaan yang dimiliki berupa aset yang selama ini tidak disadari.

Profil

  • Kenal Swamitra secara tidak sengaja, ceritanya waktu itu Marhedi butuh uang untuk tambahan beli lapak yang sebelumnya disewa.

  • Bermula dari kebijakan pengurangan pegawai oleh perusahaan tempatnya bekerja karena pengaruh krisis moneter tempo hari. Akhirnya Izzuddin tergerak untuk melanjutnya usaha yang semula dirintis oleh almarhum istrinya pada 2002.

    Berbekal modal Rp 5 juta untuk membeli peralatan dan bahan baku, Izzuddin pun mulai menekuni usaha bandeng sosisnya. Dibantu tenaga kerja sebanyak lima orang, yang diambil dari lingkungan masyarakat di sekitar rumahnya yang dijadikan tempat produksi di Jl. Hembo, Rt 03/07 No.19 Jatimulya, Tambun, Jawa Barat.
  • {slimbox images/stories/gallery/img_0021.jpg,images/stories/thumbs/img_0021.jpg,}
      Keterlibatannya di gerakan koperasi di awali langsung sebagai pengawas, meski dalam kesehariaan dirinya berprofesi sebagai pendidik, tapi kalau sudah berbicara mengenai koperasi, Ketua Koperasi Guru Pondokgede yang sudah menjabat selama empat periode ini, dengan lancar menyampaikan penjelasannya, mulai dari hambatan, tantangan, hingga prospek koperasi sebagai jalan keluar persoalan ekonomi yang sedang dialami bangsa kita.
  • Bagi pengurus Koperasi Karyawan (Kopkar) PT. Amarta Karya, mengembangkan koperasi yang memiliki Badan Hukum berdasarkan Surat Keputusan Kepala Kantor Wilayah Departemen Koperasi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor : 47/BLP/V/1990, tanggal 30 Maret 1990 dengan No. Badan Hukum 2487/BH/I, boleh dibilang bukan sesuatu yang sulit. Makanya hingga akhir Oktober 2005, Kopkar PT.Amarta Karya mampu mengumpulkan asset lebih kurang Rp 1,8 miliar.

    Dengan memanfaatkan jaringan induknya, Kopkar ini bisa memperluas keanggotaannya ke seluruh cabang perusahaan yang tersebar di Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel), Medan, Kalimantan Timur, Riau, Jambi, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.