| Dari Kontrak Hingga Punya Lapak |
|
Kenal Swamitra secara tidak sengaja, ceritanya waktu itu Marhedi butuh uang untuk tambahan beli lapak yang sebelumnya disewa. Beruntung karena informasi dari kepala pasar, dirinya bisa menemukan tempat yang pas untuk mendapatkan tambahan dana, yakni USP Swamitra Cibitung, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, yang berkantor masih di lingkungan Pasar Induk Cibitung. "Tahun 2002 saya pinjam ke Swamitra jumlahnya tiga belas juta rupiah,” kata lelaki kelahiran Kuningan, 58 tahun lalu. Dana sebesar itu dimanfaatkan untuk melunasi kekurangan pembayaran lapak berukuran 2M X 3M yang totalnya mencapai Rp 43 Juta. Sukses dengan pinjaman pertamanya, pedagang nasi dan barang kelontong ini kembali mengajukan pinjaman, nilainya naik menjadi Rp 20 juta. Uang tersebut dimanfaatkan Marhedi buat beli tanah dan membangun kontrakan sebanyak sembilan pintu. Dengan membayar cicilan per bulan Rp 1.450.000, Marhendi ternyata mampu melunasi pinjaman tepat waktu. Merasa mendapat kepercayaan dari Swamitra, bapak dari 3 orang anak ini kembali mengajukan pinjaman untuk kali ketiga. “Jumlahnya lima puluh juta rupiah dan saya pakai buat beli lapak lagi,” kata Marhedi. Berkat ketekunan dan kerja kerasnya, lagi-lagi mantan pedagang bubur keliling ini mampu melunasi kewajiban kepada Swamitra. Sayang, pada saat dirinya ingin mengajukan pinjaman keempat yang nilainya Rp 100 juta, pihak USP Swamitra Cibitung tidak bisa memenuhi permintaan tersebut dengan alasan jumlah angka yang bisa dipenuhi maksimal hanya Rp 50 juta. Akhirnya dengan difasilitasi pihak USP Swamitra Cibitung, Marhedi diarahkan untuk mengajukan pinjaman ke sebuah bank yang juga masih di seputaran lokasi pasar induk. “Sebenarnya nggak enak juga ke bank lain tapi karena Swamitra nggak punya duit, ya terpaksa pindah ke sana,” katanya. Keberadaan Marhedi sebenarnya bisa menjadi rujukan untuk nasabah lain. Semua kewajiban yang menjadi tanggungan saat menerima pinjaman, dijalaninya dengan patuh. Sedikitpun tidak ada niatnya untuk menunda maupun memperlambat pembayaran. Malahan kalau memang ada uang sebelum jatuh tempo kewajiban untuk membayar cicilan bisa langsung dilunasi. Kondisi ini membuat pengelola USP Swamitra Cibitung benar-benar mempercayai Marhedi. “Dia memang anggota kami yang sangat potensial,” kata Nur Asiyah, Manajer Operasionalnya. Anggotanya Pedagang Sayur dan BuahSelain Marhedi, anggota USP Swamitra Cibitung kebanyakan para pedagang sayur dan buah yang membuka usaha di lingkungan Pasar Induk Cibitung. Tercatat ada 53 debitur yang mengajukan kredit ke Swamitra tersebut. Sedangkan nilai kredit yang terendah Rp 2 juta dan tertingi Rp 50 juta. Dikelola dua orang pengurus aktif, Ketua Atang Tajudin, Sekretaris Supriyadi ditambah 3 orang kolektor dan seorang Manajer Operasional. Geliat transaksi USP Swamitra Cibitung cukup terlihat. Meski transaksi sering dilaksanakan pada sore dan malam hari, tetapi perputaran uang yang terjadi jumlahnya lumayan besar. “Sampai Nopember 2006 jumlah pinjaman tercatat lebih kurang Rp 568 juta,” kata Nur Asiyah. |
