| Mendukung Koperasi Lewat Kebijakan |
|
Sebagai Mantan Ketua Koperasi Pasar Kranji, Mohamad Hasim Affandi mengaku belum berbuat maksimal terhadap perkembangan koperasi di Kota Bekasi. Apalagi sekarang dirinya merasa keterlibatananya dalam gerakan koperasi tidak lebih hanya sebagai fasilitator saja. Padahal andil pria kelahiran Kotabumi, 16 September 1967 ini di lingkungan gerakan koperasi boleh dibilang cukup lumayan. Tengok saja, sejak tahun 1990, dirinya sudah masuk dalam jajaran pengurus Koperasi Mahasiswa (KOPMA) di lingkungan kampusnya di Sekolah Tinggi Pertanian (STIPER) Jogjakarta, kemudian mendirikan Koperasi Persaudaraan Muslim Indonesia (KOPPMI) cabang Kota Bekasi sekaligus sebagai ketuanya untuk periode 1998-2003, lalu menjabat sebagai Ketua Koperasi Pasar (KOPPAS) Kranji meski hanya setahun (2004). Selama berkecimpung di gerakan koperasi, Affandi yang sekarang menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bekasi periode 2004-2009, mengaku pengalaman yang dirasakannya paling berkesan tentu saja saat menjabat sebagai ketua KOPPMI karena berlangsung saat rame-ramenya orang teriak reformasi. Bagi bapak dari 3 orang anak, Nurrizki Nanda Nafisah, Nurriva Chaerunissa dan Nurrazizah Viena, waktu itu keberadaan koperasi yang dipimpinnya benar-benar dirasakan manfaatnya bagi masyarakat. “Lewat koperasi kami bisa menyalurkan berbagai kebutuhan sembako buat masyakat,” katanya. Sedangkan strategi untuk memenuhi pengadaan barang yang dibutuhkan anggotanya, wakil rakyat dari Partai Amanat Nasional ini menggandeng berbagai perusahaan dan lembaga terkait yang bisa menyediakan bahan-bahan kebutuhan pokok tadi, seperti produsen minyak, beras, gula dan lainnya. “Alhamdulillah, kalau dijalankan sungguh-sungguh semuanya menjadi lancar,” katanya. Menurut Affandi, koperasi sebaiknya jangan dijadikan alat bagi para pengurus untuk memperalat anggota demi kepentingan pribadi maupun kelompok. Seharusnya koperasi justru dijadikan sarana untuk beribadah karena berkaitan dengan azasnya yakni dari anggota-oleh anggota-untuk anggota. “Artinya kalau ada bantuan dana atau stimulan dari pemerintah ya harus di salurkan secara merata kepada anggota, jangan cuma sebagian saja, apalagi kalau separuhnya jadi milik pengurus, itu kan nggak benar,” katanya. Sayangnya selama mengurusi koperasi, suami dari Dian Susandra Idrus Bakrie ini melihat sebagian besar masyarakat masih belum tertarik dengan koperasi. Pertanyaan yang selalu muncul dari mereka, apa untungnya ikut koperasi? Nah, untuk menjawab pertanyaan tadi, Affandi menekankan seharusnya koperasi memiliki sumber dana yang pasti, pinjaman untuk anggota nilai jasanya (bunga) ringan dan prosesnya cepat. Tujuannya tentu saja untuk memberikan kemudahan bagi anggota sekaligus bisa memotivasi anggota supaya mencintai koperasi. Kesadaran masyarakat untuk berkoperasi juga dipandang Affandi masih sangat minim. Kalau mendengar kata koperasi yang ada di benak mereka cuma urusan pinjam duit. Padahal dalam arti yang sebenarnya banyak kegiatan produktif yang bisa dilaksanakan oleh koperasi. Sayangnya citra koperasi sebagai tempat ngutang sudah tertanam begitu lama. Akibatnya kalau ada yang bergabung sebagai anggota koperasi, tujuannya ya nggak lain untuk urusan pinjam-meminjam tadi. Affandi juga melihat selama ini kebanyakan koperasi selalu mengandalkan permodalan dari simpanan anggotanya, baik simpanan pokok, wajib maupun sukarela. Makanya sering muncul pertanyaan dalam benaknya, kenapa tidak diusahan dari sumber-sumber lain yang tidak mengikat atau membentuk satu unit usaha yang bisa menghasilkan. Supaya lebih maksimal lagi, keterlibatan pemerintah, baik di pusat maupun daerah memang diperlukan. Bentuknya bisa berupa kebijakan atau formula khusus, seperti peraturan pemerintah maupun peraturan menteri. Sedangkan formula khusus yang dimaksud bukan cuma sekedar memberikan pelatihan tetapi juga ada ladangnya. Ibaratnya kalau memberikan kail sekalian juga menyediakan kolamnya. Karena biar bagaimanapun kebijakan yang berpihak kepada pelaku ekonomi di kalangan menengah ke bawah kuncinya ada di pemerintah. Dengan posisinya sekarang sebagai angota legislatif, Affandi berusaha menjadi jembatan untuk mendukung upaya peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat di Kota Bekasi, khususnya para pelaku UKM dan koperasi. Caranya? Tentu saja dengan ikut menggodok kebijakan pemerintah daerah supaya lebih fokus pada persoalan penanganan ekonomi yang sering muncul di strata menengah ke bawah. Salah satunya, bersama rekan-rekannya di dewan, Affandi menggolkan program ‘Bekasi Peduli’ yang memberikan kucuran dana senilai Rp 1 miliar bagi UKM dan Koperasi yang ada di Kota Bekasi, dengan kisaran pinjaman antara Rp 2 juta hingga Rp 10 juta. Program tersebut diupayakan untuk terus digulirkan setiap tahunnya, tentu saja dengan nilai dana lebih besar dari sebelumnya. Untuk rencana ke depan, Affandi sedang mengusahakan adanya pemberian bantuan berupa mesin daur ulang bagi para pemulung. Dengan adanya peralatan tersebut diharapkan adanya peningkatan penghasilan bagi mereka dan kehadiran koperasi menjadi solusinya. Sebagai bagian dari orang yang ada dalam gerakan koperasi, dirinya akan terus berusaha untuk memperjuangkannya. “Ini baru rencana, mudah-mudahan segera terwujud,” katanya. (Sumber : Majalah PIP) |
