Terjun di Bisnis Properti

Merangkul pedagang pasar menjadi anggota koperasi bisa dibilang susah-susah gampang, selain butuh kesabaran ternyata figur ketua juga sangat menentukan tingkat kepercayaan anggotanya.

Koperasi Pasar Kecapi Jatiwarna Bekasi bisa disebut salah satunya. Dengan keberadaan H.Awing Asmawi sebagai ketuanya, geliat usaha yang dijalankan Koppas Kecapi menjadi semakin berkembang.

Selain dikenal sebagai tokoh masyarakat di lingkungan Jatiwarna, status sosial dan kondisi ekonomi H. Awing pun masuk kategori berkecukupan, makanya wajar kalau anggota merasa nyaman bergabung dalam lembaga ekonomi yang dipimpinnya.

Koppas Kecapi sendiri awalnya semacam kelompok arisan yang diarahkan untuk mengumpulkan uang sebagai modal bagi pedagang di lingkungan pasar dengan bunga pinjaman 3 % perbulan yang nantinya dinikmati pengelola saja.

Baru pada 17 Februari 2000, berdasarkan badan hukum nomor :10/BH/KHK.10.8/II/2000 Koppas Kecapi resmi didirikan, dengan jumlah anggota 26 orang dan modal awalnya Rp 30 juta. “Sebagian adalah dana penyertaan dari ketua koperasi,” kata Upi Nurasiah, sekretaris II Koppas Kecapi.

Dalam hitungan lima tahun (neraca Desember 2005), nilai asset yang dimiliki koperasi tersebut melonjak menjadi Rp 2,1 miliar. Tentunya setelah Koppas Kecapi membuka berbagai unit usaha, seperti simpan pinjam, pembayaran rekening listrik, pengadaan ayam potong, penjualan barang elektronik dan properti.

Khusus properti, Koppas Kecapi sudah berhasil membangun beberapa buah unit rumah yang kemudian dijual lagi dengan nilai dibawah Rp 100 juta. “Kalau usaha ini idenya dari pak Mulih yang menjabat sebagai wakil ketua,” kata Upi.

Anggota Koppas Kecapi tercatat ada 230 orang, calon anggota ada 466 orang dan nasabahnya ada 5.824 orang. Dengan jumlah pengguna jasa koperasi sebanyak itu, pengurus dengan 25 orang karyawannya jadi makin kreatif untuk memberikan pelayanan terbaik bagi anggotanya.

Selain setiap tahun mengadakan pembagian hadiah berupa barang-barang elektronik, ada juga progam tabungan lebaran yang batas minimalnya Rp 1.000 dipungut setiap hari dan baru bisa diambil menjelang hari raya. Dengan memanfaatkan 12 orang tenaga kolektor yang tersebar di beberapa wilayah, program tabungan ini sukses digulirkan karena ternyata peminatnya lumayan banyak, ada 2.459 orang, dan saldo yang sudah terkumpul sampai Desember 2005 sebesar 195.462.500!

Sekarang, Koppas Kecapi sedang berusaha meningkatkan kinerjanya, upaya yang ditempuh selain mengirim pengurus atau karyawannya mengikuti pelatihan dan studi banding ke beberapa koperasi, baik yang ada di lingkungan Kota Bekasi maupun ke daerah lain di wilayah Jawa Barat.

Keberadaan Koppas Kecapi terbukti bisa menjadi solusi bagi lingkungan di sekitarnya , bukan cuma para pedagang yang ingin menambah modal usahanya tetapi juga warga lain yang ingin meningkatkan kesejahteraan hidupnya. (Sumber: Majalah PIP)

 

Search

Kolom

  •   Kehadiran Hernando de Soto di Indonesia, beberapa waktu lalu, membuka jalan bagi kaum miskin untuk menyadari masih ada kekayaan yang dimiliki berupa aset yang selama ini tidak disadari.

Profil

  • Kenal Swamitra secara tidak sengaja, ceritanya waktu itu Marhedi butuh uang untuk tambahan beli lapak yang sebelumnya disewa.

  • Bermula dari kebijakan pengurangan pegawai oleh perusahaan tempatnya bekerja karena pengaruh krisis moneter tempo hari. Akhirnya Izzuddin tergerak untuk melanjutnya usaha yang semula dirintis oleh almarhum istrinya pada 2002.

    Berbekal modal Rp 5 juta untuk membeli peralatan dan bahan baku, Izzuddin pun mulai menekuni usaha bandeng sosisnya. Dibantu tenaga kerja sebanyak lima orang, yang diambil dari lingkungan masyarakat di sekitar rumahnya yang dijadikan tempat produksi di Jl. Hembo, Rt 03/07 No.19 Jatimulya, Tambun, Jawa Barat.
  • {slimbox images/stories/gallery/img_0021.jpg,images/stories/thumbs/img_0021.jpg,}
      Keterlibatannya di gerakan koperasi di awali langsung sebagai pengawas, meski dalam kesehariaan dirinya berprofesi sebagai pendidik, tapi kalau sudah berbicara mengenai koperasi, Ketua Koperasi Guru Pondokgede yang sudah menjabat selama empat periode ini, dengan lancar menyampaikan penjelasannya, mulai dari hambatan, tantangan, hingga prospek koperasi sebagai jalan keluar persoalan ekonomi yang sedang dialami bangsa kita.
  • Bagi pengurus Koperasi Karyawan (Kopkar) PT. Amarta Karya, mengembangkan koperasi yang memiliki Badan Hukum berdasarkan Surat Keputusan Kepala Kantor Wilayah Departemen Koperasi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor : 47/BLP/V/1990, tanggal 30 Maret 1990 dengan No. Badan Hukum 2487/BH/I, boleh dibilang bukan sesuatu yang sulit. Makanya hingga akhir Oktober 2005, Kopkar PT.Amarta Karya mampu mengumpulkan asset lebih kurang Rp 1,8 miliar.

    Dengan memanfaatkan jaringan induknya, Kopkar ini bisa memperluas keanggotaannya ke seluruh cabang perusahaan yang tersebar di Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel), Medan, Kalimantan Timur, Riau, Jambi, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.