Fasilitasi Pengadaan Rumah Anggota

Memasuki ruang kantor Primer Koperasi Karyawan PT. Indomobil Suzuki International Plant Tambun II (PT.ISI Plant Tambun II), suasana sejuk mulai terasa, bukan semata tempat tersebut memiliki fasilitas pendingin yang memadai, boleh jadi keberadaan karyawati yang berparas manis dengan seragam biru lembut menjadi salah satu faktor pendukungnya.

Lebih ke dalam, sederetan barang kebutuhan pokok dipajang di atas rak-rak besi, bersebelahan dengan meja kerja pengurus dan hanya ditandai sekat pembatas, makin menambah gambaran kalau aktifitas lembaga ekonomi yang mendapat predikat Koperasi Sehat se-Kabupaten Bekasi secara berturut-turut sejak tahun 2001 hingga 2005, memang benar-benar nyata. “Inilah kantor sekaligus toko yang dikelola koperasi, di sini kami menyusun program serta menyediakan berbagai barang yang diperlukan anggota,” kata H. Ishak Ramli, ketuanya.

Mengandalkan seorang manajer profesional, koperasi yang kegiatan operasionalnya berlangsung di bagian utara depan pintu gerbang perusahaan yang memproduksi kendaraan roda empat itu, setiap saat selalu memanfaatkan celah bisnis untuk menambah sumber penghasilannya.

Misalnya melakukan kerjasama dengan pihak pabrikan dalam hal penyediaan suplai telur dan snack bagi pekerja, belum lagi untuk jasa perawatan mesin produksi serta cleaning servis. “Dari kegiatan itu kami bisa mendapatkan omzet sekitar Rp 70 juta perbulan,” kata Suyud Prayitno, manager koperasinya.

Kehadirannya memang menjadi harapan para pendirinya supaya bisa memberikan kesejahteraan bagi anggotanya, apalagi saat dibentuk tahun 1989 modal awalnya tidak lebih dari Rp 5 juta, itupun badan hukum dan alamat domisilinya masih di Jakarta, baru belakangan karena perusahaan induk melebarkan sayap bisnisnya ke wilayah penyangga ibukota, koperasi tersebut ikut boyongan pindah ke Bekasi.

Keberanian mengambil keputusan untuk ikut pindah lokasi, nyatanya tidak sia-sia. Dalam tempo singkat, neraca yang dimiliki terus melonjak, untuk rentang waktu tidak sampai dua dasawarsa, hingga tahun buku 2005, tercatat asset koperasi sudah mencapai lebih kurang Rp 4,7 miliar, begitu juga dengan jumlah anggota, hingga sekarang ada 1189 orang dan semuanya berstatus karyawan tetap.

Dari jumlah anggota sebanyak itu, kalau boleh dibilang seratus persen sudah memiliki rumah dan koperasi memiliki andil cukup besar karena memfasilitasi penyediaan dana untuk uang muka.

Persyaratan yang diberikan bagi anggota yang ingin mengajukan pinjaman tidaklah sulit, hanya mengisi formulir dan kesanggupan membayar cicilan yang dilakukan secara autodebet, transaksi pun bisa langsung dilakukan. Nilai pinjaman yang diberikan bervariasi dari yang paling rendah sekitar Rp 3 juta hingga tertinggi Rp 20 juta, dengan batas waktu pengembalian antara 12 bulan - 36 bulan, bahkan untuk beberapa hal ada kebijakan atau toleransi yang diberikan oleh koperasi, tentu saja beberapa catatan.

Intinya, pengurus tidak ingin mempersulit anggota untuk mengatasi persoalan yang sedang dihadapi. Kalau bisa dipermudah, kenapa harus dipersulit, toh tujuan didirikannya koperasi kan untuk memberikan solusi ekonomi bagi anggotanya.

Alasan-alasan yang rasional dan menerapkan pendekatan secara manusiawi, menjadi modal bagi pengurus koperasi ini untuk bisa melaksanakan programnya dengan baik. Dengan menerapkan strategi seperti itulah hampir semua rencana kerja yang diajukan selalu mendapat dukungan dari anggota.

Sayangnya, masih ada juga anggota yang ngotot untuk membuka usaha dengan modal pinjaman dari koperasi, padahal sejak jauh-jauh hari sudah diingatkan oleh pengurus yang melakukan analisa bisnis kalau kegiatan usaha yang bakal dikerjakan tidak visible. “Kami tidak ingin ada anggota yang terjebak membuka usaha karena modal nekat tanpa perhitungan bisnis yang matang,” kata Ishak.

Kalau sudah terjadi dan anggota yang bersangkutan mengalami kerugian, para pengurus koperasi pun mau tidak mau ikut rembukan untuk mencarikan solusinya. Untungnya, jumlah anggota yang memiliki karakter seperti itu jumlahnya hanya nol koma nol sekian persen, seandainya banyak, kemungkinan tidak ada lagi yang mau mencalonkan diri jadi pengurus koperasi.

Sekarang, Primer Koperasi Karyawan PT ISI Plant Tambun II sedang mengejar target yang belum sepenuhnya bisa dicapai. Seperti menerapkan sistem pensiun bagi karyawan koperasi serta pemberian uang jasa bagi anggota koperasi yang keluar karena berbagai alasan. “Mudah-mudahan keduanya bisa kami laksanakan di tahun ini,” kata Ishak. (Sumber : Majalah PIP)

 
Terjun di Bisnis Properti

Merangkul pedagang pasar menjadi anggota koperasi bisa dibilang susah-susah gampang, selain butuh kesabaran ternyata figur ketua juga sangat menentukan tingkat kepercayaan anggotanya.

Koperasi Pasar Kecapi Jatiwarna Bekasi bisa disebut salah satunya. Dengan keberadaan H.Awing Asmawi sebagai ketuanya, geliat usaha yang dijalankan Koppas Kecapi menjadi semakin berkembang.

Selain dikenal sebagai tokoh masyarakat di lingkungan Jatiwarna, status sosial dan kondisi ekonomi H. Awing pun masuk kategori berkecukupan, makanya wajar kalau anggota merasa nyaman bergabung dalam lembaga ekonomi yang dipimpinnya.

Koppas Kecapi sendiri awalnya semacam kelompok arisan yang diarahkan untuk mengumpulkan uang sebagai modal bagi pedagang di lingkungan pasar dengan bunga pinjaman 3 % perbulan yang nantinya dinikmati pengelola saja.

Baru pada 17 Februari 2000, berdasarkan badan hukum nomor :10/BH/KHK.10.8/II/2000 Koppas Kecapi resmi didirikan, dengan jumlah anggota 26 orang dan modal awalnya Rp 30 juta. “Sebagian adalah dana penyertaan dari ketua koperasi,” kata Upi Nurasiah, sekretaris II Koppas Kecapi.

Dalam hitungan lima tahun (neraca Desember 2005), nilai asset yang dimiliki koperasi tersebut melonjak menjadi Rp 2,1 miliar. Tentunya setelah Koppas Kecapi membuka berbagai unit usaha, seperti simpan pinjam, pembayaran rekening listrik, pengadaan ayam potong, penjualan barang elektronik dan properti.

Khusus properti, Koppas Kecapi sudah berhasil membangun beberapa buah unit rumah yang kemudian dijual lagi dengan nilai dibawah Rp 100 juta. “Kalau usaha ini idenya dari pak Mulih yang menjabat sebagai wakil ketua,” kata Upi.

Anggota Koppas Kecapi tercatat ada 230 orang, calon anggota ada 466 orang dan nasabahnya ada 5.824 orang. Dengan jumlah pengguna jasa koperasi sebanyak itu, pengurus dengan 25 orang karyawannya jadi makin kreatif untuk memberikan pelayanan terbaik bagi anggotanya.

Selain setiap tahun mengadakan pembagian hadiah berupa barang-barang elektronik, ada juga progam tabungan lebaran yang batas minimalnya Rp 1.000 dipungut setiap hari dan baru bisa diambil menjelang hari raya. Dengan memanfaatkan 12 orang tenaga kolektor yang tersebar di beberapa wilayah, program tabungan ini sukses digulirkan karena ternyata peminatnya lumayan banyak, ada 2.459 orang, dan saldo yang sudah terkumpul sampai Desember 2005 sebesar 195.462.500!

Sekarang, Koppas Kecapi sedang berusaha meningkatkan kinerjanya, upaya yang ditempuh selain mengirim pengurus atau karyawannya mengikuti pelatihan dan studi banding ke beberapa koperasi, baik yang ada di lingkungan Kota Bekasi maupun ke daerah lain di wilayah Jawa Barat.

Keberadaan Koppas Kecapi terbukti bisa menjadi solusi bagi lingkungan di sekitarnya , bukan cuma para pedagang yang ingin menambah modal usahanya tetapi juga warga lain yang ingin meningkatkan kesejahteraan hidupnya. (Sumber: Majalah PIP)

 
Mendukung Koperasi Lewat Kebijakan

Sebagai Mantan Ketua Koperasi Pasar Kranji, Mohamad Hasim Affandi mengaku belum berbuat maksimal terhadap perkembangan koperasi di Kota Bekasi. Apalagi sekarang dirinya merasa keterlibatananya dalam gerakan koperasi tidak lebih hanya sebagai fasilitator saja.

Padahal andil pria kelahiran Kotabumi, 16 September 1967 ini di lingkungan gerakan koperasi boleh dibilang cukup lumayan. Tengok saja, sejak tahun 1990, dirinya sudah masuk dalam jajaran pengurus Koperasi Mahasiswa (KOPMA) di lingkungan kampusnya di Sekolah Tinggi Pertanian (STIPER) Jogjakarta, kemudian mendirikan Koperasi Persaudaraan Muslim Indonesia (KOPPMI) cabang Kota Bekasi sekaligus sebagai ketuanya untuk periode 1998-2003, lalu menjabat sebagai Ketua Koperasi Pasar (KOPPAS) Kranji meski hanya setahun (2004).

Selama berkecimpung di gerakan koperasi, Affandi yang sekarang menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bekasi periode 2004-2009, mengaku pengalaman yang dirasakannya paling berkesan tentu saja saat menjabat sebagai ketua KOPPMI karena berlangsung saat rame-ramenya orang teriak reformasi.

Bagi bapak dari 3 orang anak, Nurrizki Nanda Nafisah, Nurriva Chaerunissa dan Nurrazizah Viena, waktu itu keberadaan koperasi yang dipimpinnya benar-benar dirasakan manfaatnya bagi masyarakat. “Lewat koperasi kami bisa menyalurkan berbagai kebutuhan sembako buat masyakat,” katanya.

Sedangkan strategi untuk memenuhi pengadaan barang yang dibutuhkan anggotanya, wakil rakyat dari Partai Amanat Nasional ini menggandeng berbagai perusahaan dan lembaga terkait yang bisa menyediakan bahan-bahan kebutuhan pokok tadi, seperti produsen minyak, beras, gula dan lainnya. “Alhamdulillah, kalau dijalankan sungguh-sungguh semuanya menjadi lancar,” katanya.

Menurut Affandi, koperasi sebaiknya jangan dijadikan alat bagi para pengurus untuk memperalat anggota demi kepentingan pribadi maupun kelompok. Seharusnya koperasi justru dijadikan sarana untuk beribadah karena berkaitan dengan azasnya yakni dari anggota-oleh anggota-untuk anggota.

“Artinya kalau ada bantuan dana atau stimulan dari pemerintah ya harus di salurkan secara merata kepada anggota, jangan cuma sebagian saja, apalagi kalau separuhnya jadi milik pengurus, itu kan nggak benar,” katanya.

Sayangnya selama mengurusi koperasi, suami dari Dian Susandra Idrus Bakrie ini melihat sebagian besar masyarakat masih belum tertarik dengan koperasi. Pertanyaan yang selalu muncul dari mereka, apa untungnya ikut koperasi?

Nah, untuk menjawab pertanyaan tadi, Affandi menekankan seharusnya koperasi memiliki sumber dana yang pasti, pinjaman untuk anggota nilai jasanya (bunga) ringan dan prosesnya cepat. Tujuannya tentu saja untuk memberikan kemudahan bagi anggota sekaligus bisa memotivasi anggota supaya mencintai koperasi.

Kesadaran masyarakat untuk berkoperasi juga dipandang Affandi masih sangat minim. Kalau mendengar kata koperasi yang ada di benak mereka cuma urusan pinjam duit. Padahal dalam arti yang sebenarnya banyak kegiatan produktif yang bisa dilaksanakan oleh koperasi. Sayangnya citra koperasi sebagai tempat ngutang sudah tertanam begitu lama. Akibatnya kalau ada yang bergabung sebagai anggota koperasi, tujuannya ya nggak lain untuk urusan pinjam-meminjam tadi.

Affandi juga melihat selama ini kebanyakan koperasi selalu mengandalkan permodalan dari simpanan anggotanya, baik simpanan pokok, wajib maupun sukarela. Makanya sering muncul pertanyaan dalam benaknya, kenapa tidak diusahan dari sumber-sumber lain yang tidak mengikat atau membentuk satu unit usaha yang bisa menghasilkan.

Supaya lebih maksimal lagi, keterlibatan pemerintah, baik di pusat maupun daerah memang diperlukan. Bentuknya bisa berupa kebijakan atau formula khusus, seperti peraturan pemerintah maupun peraturan menteri. Sedangkan formula khusus yang dimaksud bukan cuma sekedar memberikan pelatihan tetapi juga ada ladangnya. Ibaratnya kalau memberikan kail sekalian juga menyediakan kolamnya. Karena biar bagaimanapun kebijakan yang berpihak kepada pelaku ekonomi di kalangan menengah ke bawah kuncinya ada di pemerintah.

Dengan posisinya sekarang sebagai angota legislatif, Affandi berusaha menjadi jembatan untuk mendukung upaya peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat di Kota Bekasi, khususnya para pelaku UKM dan koperasi. Caranya? Tentu saja dengan ikut menggodok kebijakan pemerintah daerah supaya lebih fokus pada persoalan penanganan ekonomi yang sering muncul di strata menengah ke bawah.

Salah satunya, bersama rekan-rekannya di dewan, Affandi menggolkan program ‘Bekasi Peduli’ yang memberikan kucuran dana senilai Rp 1 miliar bagi UKM dan Koperasi yang ada di Kota Bekasi, dengan kisaran pinjaman antara Rp 2 juta hingga Rp 10 juta. Program tersebut diupayakan untuk terus digulirkan setiap tahunnya, tentu saja dengan nilai dana lebih besar dari sebelumnya.

Untuk rencana ke depan, Affandi sedang mengusahakan adanya pemberian bantuan berupa mesin daur ulang bagi para pemulung. Dengan adanya peralatan tersebut diharapkan adanya peningkatan penghasilan bagi mereka dan kehadiran koperasi menjadi solusinya. Sebagai bagian dari orang yang ada dalam gerakan koperasi, dirinya akan terus berusaha untuk memperjuangkannya. “Ini baru rencana, mudah-mudahan segera terwujud,” katanya. (Sumber : Majalah PIP)

 
Bekerja itu Ibadah

 

Aktivitasnya di gerakan koperasi di Bekasi, terbilang lama. Tak heran, banyak pihak menerima kehadirannya. Selain, suka berdiskusi, dia juga sering melontarkan ide-ide cemerlang. Lantas, bagaimana caranya mendorong prinsip berdemokrasi di koperasi?

 

 

selengkapnya...
 
Terus Kembangkan Usaha

Sejak berdiri hingga sekarang, Koperasi Guru Pondokgede (KGP) memang memiliki catatan kinerja yang bagus. Terbukti, selain banyak menjalankan bidang usaha, anggotanya pun tiap tahun terus bertambah.

selengkapnya...
 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 Berikutnya > Akhir >>

Halaman 2 dari 2

Search

Kolom

  •   Kehadiran Hernando de Soto di Indonesia, beberapa waktu lalu, membuka jalan bagi kaum miskin untuk menyadari masih ada kekayaan yang dimiliki berupa aset yang selama ini tidak disadari.

Profil

  • Kenal Swamitra secara tidak sengaja, ceritanya waktu itu Marhedi butuh uang untuk tambahan beli lapak yang sebelumnya disewa.

  • Bermula dari kebijakan pengurangan pegawai oleh perusahaan tempatnya bekerja karena pengaruh krisis moneter tempo hari. Akhirnya Izzuddin tergerak untuk melanjutnya usaha yang semula dirintis oleh almarhum istrinya pada 2002.

    Berbekal modal Rp 5 juta untuk membeli peralatan dan bahan baku, Izzuddin pun mulai menekuni usaha bandeng sosisnya. Dibantu tenaga kerja sebanyak lima orang, yang diambil dari lingkungan masyarakat di sekitar rumahnya yang dijadikan tempat produksi di Jl. Hembo, Rt 03/07 No.19 Jatimulya, Tambun, Jawa Barat.
  • {slimbox images/stories/gallery/img_0021.jpg,images/stories/thumbs/img_0021.jpg,}
      Keterlibatannya di gerakan koperasi di awali langsung sebagai pengawas, meski dalam kesehariaan dirinya berprofesi sebagai pendidik, tapi kalau sudah berbicara mengenai koperasi, Ketua Koperasi Guru Pondokgede yang sudah menjabat selama empat periode ini, dengan lancar menyampaikan penjelasannya, mulai dari hambatan, tantangan, hingga prospek koperasi sebagai jalan keluar persoalan ekonomi yang sedang dialami bangsa kita.
  • Bagi pengurus Koperasi Karyawan (Kopkar) PT. Amarta Karya, mengembangkan koperasi yang memiliki Badan Hukum berdasarkan Surat Keputusan Kepala Kantor Wilayah Departemen Koperasi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor : 47/BLP/V/1990, tanggal 30 Maret 1990 dengan No. Badan Hukum 2487/BH/I, boleh dibilang bukan sesuatu yang sulit. Makanya hingga akhir Oktober 2005, Kopkar PT.Amarta Karya mampu mengumpulkan asset lebih kurang Rp 1,8 miliar.

    Dengan memanfaatkan jaringan induknya, Kopkar ini bisa memperluas keanggotaannya ke seluruh cabang perusahaan yang tersebar di Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel), Medan, Kalimantan Timur, Riau, Jambi, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.